PROSEDUR PERSYARATAN BIAYA PANJAR JADWAL SIDANG

DOWNLOAD BLANGKO GUGATAN / PERMOHONAN

POSBAKUM INFO PERKARA DIREKTORI PUTUSAN PENGADUAN

Urgensi Pelembagaan Sistem Peradilan Dalam Islam Sesuai Hadis Al Bukhori Nomor 2457

Urgensi Pelembagaan Sistem Peradilan Dalam Islam
Sesuai Hadis Al Bukhori Nomor 2457

Oleh : Muhammad Dikyah Salaby Ma’arif, S.E.I.

 

 

  1. Matan Hadis

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو جَمْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ زَهْدَمَ بْنَ مُضَرِّبٍ قَالَ سَمِعْتُ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ لَا أَدْرِي أَذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدُ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ وَيَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَنْذِرُونَ وَلَا يَفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمْ السِّمَنُ

 

  1. Terjemah Hadis

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Abu Jamrah berkata, aku mendengar Zahdam bin Mudharrib berkata; aku mendengar 'Imran bin Hushain radliallahu'anhuma berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka". 'Imran berkata: "Aku tidak tahu apakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan lagi setelah (generasi beliau) dua atau tiga generasi setelahnya". Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya setelah kalian akan ada kaum yang suka berkhianat (sehingga) mereka tidak dipercaya, mereka suka bersaksi padahal tidak diminta persaksian mereka, mereka juga suka memberi peringatan padahal tidak diminta berfatwa dan nampak dari ciri mereka orangnya berbadan gemuk-gemuk". (HR. Bukhori, Hadis ke 2457)

 

  1. Otentifikasi Hadis
  1. Penelitian Menurut Standar Mustholahul Hadis

Untuk mengetahui kesahihan sebuah hadis, maka perlu dikemukakan definisi hadis shahih. Dalam Muqodimah Ibnu Sholah definisi hadis shahih disebutkan sebagai berikut :1


هُوَ الْمُسْنَدُ، الْمُتَّصِلُ إِسْنَادُهُ، بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ، عَنِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ إِلَى مُنْتَهَاهُ، مِنْ غَيْرِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ

Artinya : “Hadits sahih adalah hadits yang musnad, bersambung sanadnya, dengan penukilan seorang yang adil dan dhabith dari orang yang adil dan dhabith sampai akhir sanad, tanpa ada keganjilan dan cacat.
Dengan definisi hadis shahih tersebut diatas, maka kita dapat menganalisa keshahihan hadis riwayat bukhori nomor 2457 sebagai berikut :

  1. Ketersambungan Sanad

 

Setelah dilihat transmisi perawi dari yang satu kepada yang lainnya, maka didapati hadis riwayat Bukhori tersebut memiliki sanad yang muttashil (sambung) dan marfu' (sampai kepada Nabi SAW), sebagaimana terlihat dalam bagan dan penjelasan berikut:2

  1. Keadilan dan Kedhabitan Rawi

Dalam hal keadilan dan kedhabitan seorang rawi, ilmu jarh wa ta’dil digunakan. Instrumen ini mengkaji tentang hal ihwal para rawi dalam hal mencacat keaibannya dan memuji keadilannya. Ta’dil artinya menganggap adil seorang rawi, yakni memuji rawi dengan sifat-sifat yang membawa maqbulnya riwayat. Al jarh atau tarjih artinya mencacatkan, yakni menuturkan sebab-sebab keaiban rawi. Perbuatan Tarjih termasuk mengumpat yang dibolehkan oleh agama, sebab untuk keperluan agama dan tidak melampaui batas kemanusiaan.3
Berikut jarh wa ta’dil para perawi hadis :

  1. ) Adam Bin Abu Iyas

Adam Bin Abu Iyas adalah generasi Tabi’ut Tabi’in. Abu Daud menilainya sebagai perawi yang Tsiqah. An Nasa’i menilai Adam sebagai perawi yang la ba’ sa bih. Abu Hatim menilainya tsiqah terpercaya ahli ibadah, termasuk hamba-hamba Allah yang terbaik. Ibnu Hajar al 'Asqalani menilainya tsiqah ahli ibadah. Ibnu Hibban menilainya Tsiqah.

  1. ) Syu’bah Bin Al Hajjaj Bin Al Warad

Nama lengkap Syu’bah bin al-Hajjaj bin al-Warad al-Itki al-Azdi al-Bashri. Menurut riwayat Abu Thalib dari Ahmad bahwa Syu’bah lebih kuat (atsbat) dari pada al-A’masy, dan lebih  menguasai hadits-hadits hukum. Imam Syafi’i senada dengan pendapat tersebut dan menyatakan bahwa seandainya tidak ada Syu’bah, maka hadits tidak dikenal di Irak. Menguatkan pendapat di atas Ibnu Sa’ad menilainya sebagai orang yang tsiqah dan makmun

  1. ) Nashr Bin ‘Imron

Beliau adalah berasal dari kalangan Tabi’ul Atba’ (kalangan tua), mempunyai nama panggilan Abu Jamrah. Semasa hidupnya berada di Basrah wafat pada tahun 128 H. Abu Zur’ah menilainya tsiqah. Ahmad Bin Hambal menilainya tsiqah. Ibnu Hibban menggolongkannya dalam ast tsiqaat. Ibnu Abdil Barr menilainya tsiqah. Ibnu Sa’ad menilainya tsiqah ma’mun. Ibnu Hajar Al ‘Asqalani menilainya tsiqah tsabat. Adz Dzahabi menilainya tsiqah.4

  1. ) Zahdam Bin Mudlorrib

Beliau berasal dari kalangan Tabi’in pertengahan, mempunyai nama panggilan Abu Muslim. Semasa hidupnya berada di Basrah. Ibnu Hibban menggolongkannya dalam ast tsiqaat. Al Ajli menilainya tsiqah. Adz Dzahabi menilainya tsiqah. Ibnu Hajar Al ‘Asqalani menilainya tsiqah.

  1. ) Imron Bin Hushain Bin ‘Ubain Bin Kholaf

Imron Bin Hushain Bin ‘Ubain Bin Kholaf adalah sahabat Rasulullah SAW. Ia masuk Islam pada tahun 7 H bersamaan dengan sahabat Abu Hurairah. Ia telah mengikuti peperangan bersama Rasulullah SAW dan menjadi utusan sebagai hakim di daerah Basrah, yang juga merupakan guru dari ulama terkenal Hasan Al Basri.5 Sahabat ini dinilai adil berdasarkan suatu kaidah :


االصحابة كلهم عدول

Berdasarkan penilaian para ahli jarh dan ta'dil ini, tampak bahwa para perawi hadis yang sedang dikaji ini memenuhi kriteria hadis sahih. Penilaian yang diberikan oleh mereka tidak menunjukkan variasi yang berarti, bahkan semuanya mengarah kepada perawi yang adil dan dhabit. Hanya An Nasa’i yang menilai Adam Bin Iyas dengan laa ba’sa bih. Namun demikian dalam kajian jarh wa ta’dil, banyak ulama yang berpendapat bahwa ta’dil selalu diutamakan dibandingkan dengan jarh.

  1. Ketiadaan Syadz

Apabila dikaitkan dengan teks-teks Alquran dan Hadis, dalam hadis ini tidak terdapat syadz atau perlawanan dengan nash-nash tersebut. Hadis tersebut banyak bersesuaian dengan nash-nash yang lain baik yang semisal dengan matannya atau yang menguatkan hadis tersebut. Antara lain :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Maidah: 8)


وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ
إِحْدَاهُمَا عَلَى الأخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.(Qs. Al Hujurat : 9)


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَكَانُوا يَضْرِبُونَنَا عَلَى الشَّهَادَةِ وَالْعَهْدِ


Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Ibrahim dari 'Ubaidah dari 'Abdullah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.Kemudian akan datang sebuah kaum yang persaksian seorang dari mereka mendahului  sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya". Ibrahim berkata; "Dahulu, mereka (para shahabat) mengajarkan kami tentang bersaksi dan memegang janji (Mereka memukul kami bila melanggar perjanjian dan persaksian) ".(HR. Bukhori no.2458)
  1. Ketiadaan ‘illat

'Illat hadis ialah suatu penyakit yang samar-samar, yang dapat menodai kesahihan suatu hadis. Misalnya meriwayatkan suatu hadis secara muttashil terhadap hadis mursal atau terhadap hadis munqathi' atau sebaliknya. Atau, meriwayatkan suatu hadis yang di dalam matannya terdapat sisipan.6
Hadis yang dikemukakan diatas telah ternyata jika tidak terdapat ‘illat didalamnya. Karena didasarkan kepada penilaian kepada semua perawi yang diberikan oleh para ahli hadis menunjukkan tidak ada keraguan didalamnya. Jika terdapat ‘illat dalam hadis tersebut, maka tentu para perawi hadisnya tidak akan dinilai adil atau tsiqah.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam perspektif penelitian otentifikasi hadis menurut standar ilmu mushthalul hadis, hadis Ibnu Umar tersebut termasuk kategori hadis yang sahih, karena telah memenuhi berbagai persyaratan hadis sahih seperti yang telah uraikan di depan.

  1. Penelitian Secara Instan

Ibnu Hajar al-Asqalani membagi hirarki hadis sahih ke dalam 7 (tujuh) tingkatan: (1) Riwayat Bukhari dan Muslim, (2) Riwayat Bukhari, (3) Riwayat Muslim, (4) Riwayat memenuhi syarat Bukhari dan Muslim, (5) Riwayat memenuhi syarat Bukhari, (6) Riwayat memenuhi syarat Muslim, dan (7) Riwayat yang dinilai sahih oleh selain Bukhari dan Muslim.7
Jika dicari hadis yang semisal, yaitu hadis yang berdekatan secara matan, maka dapat hadis riwayat bukhori nomor 2457 ini dapat ditemukan dalam riwayat muslim nomor 6635, dan terdapat pula pada perawi-perawi yang lain karena hadis ini cukup mashur.

 

  1. Makna dan Kandungan Hadis

Dalam aspek muamalah dan penegakan hukum, hadis riwayat bukhori tersebut dapat ditarik kesimpulan hukumnya.

  1. Pemahaman mengenai generasi terbaik

Dalam hadis tersebut secara parsial dengan pemahaman literalisme tertutup, akan segera kita dapati kesimpulan bahwa yang merupakan sebaik-baik manusia, yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad SAW yakni para sahabat, zaman setelahnya yakni tabi’in dan zaman setelahnya lagi, yakni generasi tabi’ut tabi’in. Secara sekilas pemaknaan tentang generasi terbaik menggunakan metode tersebut tidaklah menimbulkan masalah, namun dalam operasionalisasi dilapangan dapat menimbulkan masalah.
Doktrin parsial yang tekstual mengenai generasi terbaik tersebut dapat dijadikan alat untuk mendakwahkan pemahaman dan keyakinan Islam tanpa mempertimbangkan unsur-unsur budaya kearifan lokal serta manusia itu sendiri. Dalam tingkat yang lebih parah, doktrin “generasi terbaik” yang dipahami tertutup dapat mengakibatkan mengalirnya darah sesama muslim dengan klaim suatu tindakan sesuai atau tidak sesuai dengan tradisi “generasi terbaik”.
Dalam kajian kritisnya, terdapat beberapa permasalahan dengan makna “generasi terbaik”, sebagai berikut :8

  1. Jika tolok ukurnya adalah akidah yang shahih dan bersih, maka sebuah keniscayaan ketiga generasi yang dikatakan terbaik, orang-orang muslim semuanya akan berpegang teguh pada satu akidah yang benar sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW, dan akidah yang batil dan menyimpang baru akan muncul dan lahir setelah tiga generasi terbaik tersebut. Namun sejarah lahirnya beragam sekte, firqah dan mazhab dalam masyarakat Islam menyangkal klaim tersebut. Khawarij muncul dipenghujung tahun ke-30 H. Belum berakhir satu abad pertama, kembali muncul Murjiah, mereka mengajak umat Islam untuk berlepas dari tatanan dan komitmen syariat dengan slogan yang terkesan humanis dan elegan, “Selama seseorang masih beriman, maksiat apapun yang dilakukan tidak tercatat sebagai dosa”. Tidak lama berselang setelah itu, muncul kembali Mu’tazilah pada tahun 105 H dengan jarak yang singkat sebelum wafatnya Hasan al Bashri.
  2. Jika ukurannya adalah terpeliharanya keamanan, ketentraman dan seluruh kaum muslimin menyatu dan bersaudara dalam ikatan ukhuwah islamiyah yang erat dan mapan maka fakta sejarahpun secara tegas menampiknya.
  3. Jika tolok ukur yang digunakan adalah sikap konsisten dan berpegang teguh terhadap nilai-nilai luhur yang dibawa Rasulullah SAW maka justru akan bertentangan secara diametral dengan nash terutama ayat alquran yang bercerita tentang makar dan kemunafikan yang berkeliaran dilingkungan Rasulullah SAW dan masa-masa berikutnya.

Dari kajian tersebut maka kita perlu memaknai generasi terbaik dengan perspektif lain yang tidak menimbulkan kegaduhan dibelakangan hari. Bahwa masa Rasulullah SAW dan para sahabatnya, generasi tabi’in, dan generasi tabi’ut tabi’in adalah generasi yang terbaik tidak disangkal lagi. Karena jika dikembalikan kepada rujukan hadisnya, ia tergolong hadis yang shahih dan tidak ada penolakan dalam matan maupun sanadnya. Namun perlu sebuah definisi alternatif tentang generasi terbaik sehingga didapati pemaknaan yang lebih universal dan terkait dengan kalimat dalam matan hadis selanjutnya.
Dalam sebuah kesempatan, Syaikh Yusuf Qardhawi pernah ditanya mengenai perayaan peringatan maulid nabi. Ia pun menjawab :9


لأن هذه الأشياء عاشوها بالفعل، وكانوا يحيون مع الرسول صلى الله عليه وسلم، كان الرسول صلى الله عليه وسلم حياً في ضمائرهم، لم يغب عن وعيهم، كان سعد بن أبي وقاص يقول: كنا نروي أبناءنا مغازي رسول الله صلى الله عليه وسلم كما نحفِّظهم السورة من القرآن، بأن يحكوا للأولاد ماذا حدث في غزوة بدر وفي غزوة أحد، وفي غزوة الخندق وفي غزوة خيبر، فكانوا يحكون لهم ماذا حدث في حياة النبي صلى الله عليه وسلم، فلم يكونوا إذن في حاجة إلى تذكّر هذه الأشياء .
ثم جاء عصر نسي الناس هذه الأحداث وأصبحت غائبة عن وعيهم، وغائبة عن عقولهم وضمائرهم، فاحتاج الناس إلى إحياء هذه المعاني التي ماتت والتذكير بهذه المآثر التي نُسيت، صحيح اتُخِذت بعض البدع في هذه الأشياء ولكنني أقول إننا نحتفل بأن نذكر الناس بحقائق السيرة النبوية وحقائق الرسالة المحمدية، فعندما أحتفل بمولد الرسول فأنا أحتفل بمولد الرسالة، فأنا أذكِّر الناس برسالة رسول الله وبسيرة رسول

Pada intinya, pada saat hidupnya nabi dan para sahabat kemudian diteruskan generasi tabi’in dan tabi’ut tabi’in, tidak diadakan peringatan maulid nabi karena Nabi SAW hidup dalam hati mereka, tidak hilang kesadaran tentang keberadaan Nabi Muhammada SAW. Seperti Sa’ad Bin Abi Waqqash yang mengisahkan peperangan kepada anak cucunya. Kemudian datanglah masa di mana manusia melupakan berbagai peristiwa di atas dan hilang dari kesadaran, jiwa dan hati mereka.
Merujuk kepada jawaban Syaikh Yusuf Qardhawi tentang peringatan maulid nabi tersebut, penulis berpendapat bahwa generasi terbaik adalah pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat, kemudian masa tabi’in dan masa tabi’ut tabi’in. Namun dengan makna bahwa mereka adalah generasi yang masih hidup dalam kesadaran mereka tentang nabi SAW, baik itu melalui pertemuan langsung maupun kisah-kisah dari para pelaku sejarah. Generasi ini menjadi generasi terbaik karena mereka menjadi bagian dari living story.

  1. Urgensi Pelembagaan Peradilan Dalam Islam

Perlu ditekankan dalam hadis bukhori nomor 2457 tersebut diatas, bahwa kajian hadis ini tidak berhenti pada generasi terbaik, namun masih dikaitkan dengan lanjutannya yang mengabarkan tentang kondisi suatu kaum yang suka berkhianat, suka memberi kesaksian yang palsu dan memberi fatwa padahal tidak diminta. Secara sederhana akal kita akan dibawa kepada pemahaman bahwa generasi yang terbaik adalah generasi yang tidak berkhianat, tidak suka memberi saksi yang palsu dan tidak mudah menjatuhkan fatwa tanpa kompetensi.
Umat Islam perlu berupaya untuk kembali kepada suasana generasi terbaik dengan cara menciptakan sebuah instrumen yang dapat mengantisipati pengkhianatan, kepalsuan saksi dan fatwa-fatwa yang sembarangan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pelembagaan badan peradilan dengan adanya kodifikasi hukum yang dapat dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam tanpa menghilangkan rasa keadilan bagi para pihak yang berperkara.
Pelembagaan peradilan Islam tidak melulu/harus menggunakan Islam sebagai dasar negara atau harus menjadi negara Islam, namun selama penegakan syariat Islam bagi para pemeluknya dapat dijalankan maka itu sudah cukup. Namun berbicara syariat Islam, sesungguhnya mencakup tiga pengertian :10

  1. Sebagai keseluruhan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Syariat dalam pengertian ini mencakup bidang yang lebih luas dari apa yang dimaksud hukum dalam pengertian modern.
  2. Keseluruhan nushus (teks-teks) Al Quran dan Sunnah yang merupakan nilai-nilai hukum yang berasal dari wahyu Allah SWT. Syariat dalam pengertian ini mempunyai teks-teks yang sangat terbatas, sedangkan permasalahan hukum manusia tidak terbatas.
  3. Pemahaman para ahli terhadap hukum yang berasal dari wahyu Allah SWT dan hasil ijtihad yang berpedoman pada wahyu Allah SWT. Syariat dalam pengertian ini selain terdiri dari berbagai interpretasi atau mazhab dan lebih luas dari cakupan hukum dalam konteks negara, merupakan pandangan dari masa dan kondisi tertentu yang mungkin sesuai atau tidak sesuai dengan kondisi kekinian umat. Karena itu, fiqh memerlukan penataan kembali sehingga sesuai betul dengan kebutuhan hukum zaman sekarang.

Dalam konteks hadis tersebut diatas, maka sangat diperlukan sebuah sistematika peradilan yang rapi sehingga tidak terjadi celah hukum melalui kesaksian palsu maupun produk fatwa tentang sebuah hukum dari pihak yang tidak kompeten meski mempunyai pengikut yang banyak.
Meski syariat Islam dalam konteks fiqih mempunyai kekayan wawasan, tetapi masih banyak yang belum terkodifikasi selayaknya hukum barat sehingga sulit untuk di tegakkan syariat Islam menjadi hukum positif selain pranatanya yang belum sempurna.

 

  1. Kesimpulan

Dari pengkajian hadis Al Bukhori nomor 2457 sebagaimana tersebut diatas didapati beberapa kesimpulan :

  1. Bahwa menurut pelacakan otentifikasi hadis menggunakan musthalahul hadis maupun penelitian instan, didapati hadis tersebut adalah shahih.
  2. Bahwa makna generasi terbaik dalam penggalan kalimat pertama tidak cukup dapat dimaknai sebagaimana makna tersurat karena dapat menimbulkan kontradiksi dalam operasional dilapangan.
  3. Bahwa makna generasi terbaik harus dilihat dari sudut kalimat setelahnya yang menyatakan tentang tidak tertegaknya supremasi hukum karena kurang tertatanya instrumen-instrumen hukum itu sendiri.

Footnote

1 http://pompysyaiful.com/tsaqofah/ulumul-hadits/hadits-shahih.html

2http://125.164.221.44/hadisonline/hadis9/perawi_open.php?imam=bukhari&nohdt=2457

3 Prof. Drs. H. Endang Soetardi AD., M.Si., Ilmu Hadis, Kajian Riwayah dan Dirayah, hal. 159.

4 http://125.164.221.44/hadisonline/hadis9/perawi_open.php?imam=bukhari&nohdt=2457

5 http://www.alsofwa.com/20097/imran-bin-husain.html, mengambil sumber dari Siyar A’lam An-Nubala jilid 2/508-512, Siyar As-Salaf As-Shalih jilid 2/614-615.

6 Drs. Fatchur Rahman, Ikhtisar Musththul Hadis (Bandung: PT Alma'arif, 1987), hal. 273.

7 Ibid., hal. 102-106.

8 http://syiahali.wordpress.com/2010/08/20/studi-kritis-hadits-%E2%80%9Ckurun-generasi-terbaik%E2%80%9D-andalan-salafi/

9 http://www.alkhoirot.net/2012/02/hukum-maulid-nabi.html#2c

10 Dr. Rifyal Ka’bah, M.A., Penegakan Syariah Islam di Indonesia, hal.42-44.

 

Daftar Rujukan
http://125.164.221.44/hadisonline/hadis9/perawi_open.php?imam=bukhari&
http://pompysyaiful.com/tsaqofah/ulumul-hadits/hadits-shahih.html
http://syiahali.wordpress.com/2010/08/20/studi-kritis-hadits-%E2%80%9Ckurun-generasi-terbaik%E2%80%9D-andalan-salafi/
http://www.alkhoirot.net/2012/02/hukum-maulid-nabi.html#2c
http://www.alsofwa.com/20097/imran-bin-husain.html, mengambil sumber dari Siyar A’lam An-Nubala jilid 2/508-512, Siyar As-Salaf As-Shalih jilid 2/614-615.
Ka’bah, Rifyal, Dr. M.A., Penegakan Syariah Islam di Indonesia, Cet.I, Jakarta : Khoirul Bayan, 2004.
Rahman, Drs. Fatchur, Ikhtisar Musththul Hadis,Bandung: PT Alma'arif, 1987
Soetardi AD, H. Endang, Prof. Drs., M.Si., Ilmu Hadis, Kajian Riwayah dan Dirayah,Cet.III, Bandung : Amal Bakti Press, 2000.

Sekilas PA Bantul

Pengadilan Agama Bantul adalah Pengadilan Agama tingkat 1 untuk daerah kerja seluruh wilayah di kabupaten Bantul

Kontak Kami

Silahkan menghubungi Pengadilan Agama Bantul melalui alamat berikut ini.

  • Telepon: (0274) 367423

Media Sosial Pengadilan Agama Bantul

Pengadilan Agama ada di media sosial, silahkan ikuti dan get in touch dengan kami.
Anda disini: Beranda Artikel Urgensi Pelembagaan Sistem Peradilan Dalam Islam Sesuai Hadis Al Bukhori Nomor 2457